Header Ads Widget

Ticker

6/recent/ticker-posts

ADA DIA DI GB 2 (GB 2 HOROR CASES), PART 1

ADA DIA DI GB 2 (GB 2 HOROR CASES), PART 1
(Apa benar hal mistik tak bisa dipercaya?)


Hallo, sobat Ilook! Tak bosan untuk menanyakan kabar para pembaca setia Ilook website hari ini, bagaimana kalian dalam keadaan baik kan? Semangat menuju #newnormal ya! Masa pandemi pasti berakhir. Kali ini, ada yang baru dari tim Ilook website – kami mendapatkan kiriman cerita dengan genre yang berbeda dari sebelumnya. Penasaran? Bisa langsung simak cerita di bawah ya :
***
“Pertama kalinya, aku memberanikan diri untuk membagikan cerita ku kepada kalian semua. Percaya tidak percaya, tapi inilah yang tengah ku alami. Hari dimana aku merasa bahwa, aku sedang tidak baik-baik saja, dan semua hal aneh itu selalu menghantui pikiranku”
Hai, namaku Rizki Fadhillah, sekarang tengah menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik di Kota B. Aku mengambil Jurusan Administrasi Publik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tahun 2017 adalah tahun pertamaku menginjakkan kaki di kampus ini, yang biasa disebut dengan kampus biru. Awalnya biasa saja dan tak ada masalah, aku selalu bersemangat menjalani serangkaian kegiatan perkuliahan dan organisasi yang kuikuti di kampus. Sampai suatu ketika, kisah yang tak diharapkan itupun mendatangiku dengan segala teka-teki aneh seolah menggerogoti dan memaksaku untuk menemukan jawabannya. Semua bermula di hari pertamaku memasuki ruangan ke 25 yang berada di gedung belajar 2.
Pertemuan Pertama
            Hari pertama kuliah aku datang ke kampus dengan bahagia dan penuh semangat. Aku bertemu dengan teman baru, namanya Donna. Dia adalah seorang gadis periang dengan kapasitas otak yang tak kalah dengan Einstein, serta juga dapat menarik netra kita dengan wajahnya yang rupawan.
Aku dan Donna berjalan bersama menuju gedung belajar yang sudah ditetapkan berada di ruangan nomor 25. Saat pertama kali masuk, kalian akan mencium aroma yang sangat menyengat di indera penciuman, ya itu aroma kotoran kelelawar. Ruangan ini penuh dengan kelelawar yang bersarang di plafonnya. Hal inilah yang akan menjadi topik pembicaraan pertama mengenai pendeskripsian gedung belajarku. Aku dan Donna memutuskan untuk duduk di kursi paling belakang selagi menunggu jam kuliah dimulai.
Selain Donna, aku juga mengakrabkan diri dengan beberapa mahasiswa baru lainnya, mereka adalah Amanda dan Vebbie. Singkatnya saat itu kami sedang bercerita perihal rencana makan siang. Kami tetap lanjut bercerita sampai dimana aku merasakan wangi aneh menusuk indera penciumanku, seperti wangi bunga tapi tidak tahu bunga apakah itu.
            “Man kamu pakai parfum apa? ” tanyaku pada Amanda.
            “Pakai parfum yang biasa Riz, kenapa emangnya?” Amanda balik bertanya. Aku menggeleng cepat.
            “Eh maaf Riz” tiba-tiba Donna menjatuhkan penaku dan aku dengan cepat mengambilnya. Saat ku putuskan untuk mengambil pena, aku melihat ada kaki wanita yang duduk menyilang dibelakang bangkuku dan dia memakai rok diatas lutut, setahuku selama perkuliahan tidak boleh memakai celana atau rok diatas lutut.
“Ayo pindah ke depan saja” ajakku pada ketiga temanku, sebelum ada hal aneh lain yang bisa saja memaksaku untuk melihatnya. Mereka mengikutiku dan kami pindah ke depan tanpa ada kecurigaan apapun.
            Hampir 30 menit kami menunggu jam kuliah pertama yang ternyata berakhir dengan teriakan salah seorang temanku menginformasi bahwa“Pak Arasuli tidak masuk teman-teman jadi kita pulang saja!” Mendengarkan pengumuman darinya, aku dan ketiga temanku memutuskan untuk pergi makan siang di Warung Bakso favorit kami.
            “Kenapa tiba-tiba tadi jadi pindah duduk di depan Riz? Padahal kamu yang ngajakin kita duduk di belakang ” tanya Vebbie, yang sudah ku perhatikan dirinya melalui kaca spion dan ingin melontarkan pertanyaan itu dengan keraguan.
            “Oh itu enggak apa-apa kok, lagian kalau terlalu di belakang takutnya enggak dengar mana tahu ada pengumuman dari komti” Bohongku padanya karena aku tidak mau bercerita tentang yang aku lihat tadi dan tak mau dicap sebagai orang aneh.
            Setelah sampai disana, kami menikmati makan siang dengan khidmat. Mencoba untuk memuaskan lidah dengan kelezatan bakso beserta cemilan lainnya.
            “Kenapa perempuan itu melihatku seperti itu?” tanyaku pada Donna dan Amanda yang duduk didepanku.
            “Perempuan mana Riz?” tanya Donna.
            Mereka langsung menoleh ke belakang memastikan pertanyaanku. Namun yang didapati hanya meja dan kursi kosong bahkan tanpa ada bekas makan dan minuman di atasnya. Ketiganya mengabaikan apa yang tengah ku lihat tadi dan ini sudah dua kali aku merasa ada yang aneh dengan netraku hari ini.
Pertemuan Kedua
            Seminggu berlalu dan masih menyisakan rasa penasaranku terhadap sosok perempuan dengan rok di atas lutut yang berada di ruangan 25. Kenapa ia sangat berani menunjukkan dirinya yang bahkan aku pun tak tahu siapakah dia?
            “Riz kamu ikut Oriaba I?” tanya Puput temanku saat kegiatan  PKK Universitas kemaren.
            “Ikut Put, kamu ikut juga kan?” tanyaku balik padanya dan Puput mengangguk.
            “Aku masuk dulu ya Put, soalnya Pak Suryadi disiplin waktu orangnya” pamitku pada Puput dan gadis itu menyetujui perpisahan kami.
            Pak Suryadi dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang akan masuk ke ruangan 20. Kebetulan ruangan ini berada di dekat ruangan 25. Saat aku melewati ruangan 25 aku mendengar suara riuh dari dalam ruangan, karena penasaran aku mendekati ruangan dan pikirku mungkin hari ini sudah pindah kelas. Tepat saat aku melangkahkan kaki di depan pintu, suara riuhnya hilang dan tak ada seorangpun disana. Merasa diselimuti dengan keanehan “lagi” aku langsung putar balik menuju ruangan 20.
            “Riz kenapa tadi ke ruang 25?” tanya Donna.
            “Tadi aku dengar suara ramai sekali disitu, aku kira kelas kita pindah ruangan. Tapi ternyata disana kosong, suara yang tadi ku dengar mendadak heningjelasku pada Donna, yang mencerna ucapanku tampak heran.
***
            “Aku ke toilet dulu Don” Aku izin keluar kelas dan menuju toilet yang berada diujung bangunan ini yang tepatnya berada dekat ruangan 24. Agar bisa sampai di toilet, sebenarnya harus melewati ruangan 25, tapi dengan segala kejadian ganjil yang kurasakan sejak beberapa hari lalu aku jadi takut  untuk berkeliaran di dekat ruangan 25. Untuk menyingkat waktu, kuputuskan untuk memilih jalan lain yang harus putar balik dan melewati sekre I.
            “Tok! Tok! Tok!” Aku terkejut saat mendengar pintu ruangan sekre I yang diketuk sangat keras dari dalam. “Sial..” aku merasa sudah terdikte oleh hal-hal aneh itu lagi. Tanpa menelusuri lebih jauh, aku kembali ke kelas dan memutuskan untuk melanjutkan keinginanku setelah jam mata kuliah selesai. Bersama Donna yang bersedia menemaniku kala itu, sekaligus menjalani ibadah sholat Dhuzur.
            “Aku duluan ya Riz” Donna meninggalkanku yang masih di dalam toilet.
            Keluar dari toilet, aku langsung berwudhu sebelum masuk ke shelter untuk sholat Dhuzur berjamaah.  Bahkan ditengah kesendirianku, aku bisa merasakan ada sesuatu yang saat ini sedang memperhatikanku. Dari kaca besar yang menempel di dinding toilet, nampak sekilas bayangan wanita berdiri di ujung pintu toilet. Aku kaget dan langsung menoleh ke arah sana dan tidak ada orang. Aku berusaha mengabaikannya, lalu mempercepat wudhu dan meninggalkan tempat itu.
Pertemuan Ketiga
            Ini adalah hari pertamaku  mengikuti Oriaba I, salah satu organisasi kerohanian di fakultasku. Acara oriaba dimulai pukul 08.00 tetapi panitia menyuruh kami datang sebelum waktu yang ditentukan. Karena rumahku jauh dari kampus, sejak dari jam 6 kurang sudah berada di GB. Benar, di parkiran GB belum ada satupun orang, baik itu peserta ataupun panitia.
Aku menunggu dan duduk di kursi beton yang ada di depan gerbang masuk GB. Sayup-sayup saat sedang menunggu terdengar suara ribut seperti orang sedang kuliah di lantai atas, aku berusaha fokus dan mencoba mendengarkan suara apa itu. Detik kemudian, suara itu menghilang sama seperti yang pernah ku telusuri saat mendengarkan riuhan suara dari ruangan 25.
            “Wah, udah lama datangnya Riz? Cepat sekali panita saja belum datang” seseorang memecah lamunanku yang masih dikerubungi dengan riuhan suara tadi. Dua orang panitia dari kegiatan Oriaba baru datang sambil membawa perlengkapan.
            “Gak papa kak, biar gak telat soalnya rumah Rizki jauh” jawabku sambil tersenyum
            Setelah kedua senior itu pergi sambil mengunci kembali pintu gerbang yang ia buka untuk meletakkan perlengkapan kegiatan, aku kembali dengan kesendirianku. Untuk menghilangkan rasa suntuk aku putuskan untuk  mendengarkan lagu senandung ukhuwah menggunakan earphone. Sengaja, supaya tidak terusik dengan suara-suara aneh lainnya.  
Ternyata aku salah, kembali netraku menikmati rangkaian keanehan di gedung ini. Tiba-tiba pintu trali GB yang tadinya sudah dikunci itu, kembali terbuka dan terbanting ke pinggirnya. Aku kaget dan langsung berdiri mengambil tas menjauh dari gerbang GB. Aku duduk di pos satpam yang kebetulan saat itu masih kosong. Belum puas dengan kejanggalan itu, pintunya sudah terkunci rapat kembali.
***
            Sulit bagiku untuk tak memperdulikan segala keganjilan yang seolah tak ingin lepas dari perhatian dariku. Kali ini, entah apa yang mendorongku untuk menolehkan pandangan ke arah danau yang berada di sebelah kiri GB. Jelas bisa ku deskripsikan bahwa disana ada seorang perempuan sedang duduk membaca buku, dia duduk menghadap ke arah danau sambil memainkan air dengan kakinya yang dimasukkan ke dalam danau sehingga hanya badan bagian atasnya saja yang terlihat. Perempuan itu memakai baju berwarna putih dan sekilas bawahan yang dia pakai tampak berwarna hitam. Rambutnya hitam dan panjangnya sebahu lebih sedikit. Pandanganku tidak lepas dari perempuan itu karena aku penasaran kenapa pagi-pagi buta sudah duduk disana membaca buku sambil bermain air padahal cuaca sedikit dingin.
            “Assalamualaikum!” Aku sedikit kaget mendengar ucapan salam dari dua gadis yang tiba-tiba sudah berdiri disampingku. Beruntung, mereka menyelamatkanku dari apa yang ku saksikan tadi.
Pertemuan Keempat
            Sudah lumayan lama setelah kegiatan oriaba I aku tidak melihat perempuan yang kala itu mengusik pandanganku. Sebenarnya aku masih penasaran, siapa dia? Bahkan sudah berani masuk ke dalam mimpiku tadi malam?
            Hari ini adalah jadwal kegiatanku untuk melaksanakan BBQ (Bina Baca Quran) bersama dengan anggota lainnya. Mentor kami, Mbak Dina yang merupakan senior di jurusanku. Mbak Dina yang simple, lucu namun juga tegas saat mengajarkan kami.
Kegiatan ini biasanya kami lakukan di pinggir danau, tempat ini nyaman dan memang sering dijadikan lokasi para mahasiswa lain melangsungkan berbagai kegiatan. Misalnya seperti, kumpul angkatan, rapat, ataupun kegiatan bermanfaat lainnya.
            Selesai BBQ kami bercerita atau istilah paling kerennya “Curcol, bareng Mbak Dina”. Mbak Dina meluangkan waktunya untuk mendengarkan berbagai cerita dari para anak didiknya, bebas boleh tentang apa saja. Jikalau memang butuh solusi, Mbak Dina juga dengan hati memberikan saran dan solusi terbaiknya.
“Riz! Jangan melamun..” Dinda menegurku, ia sadar bahwa sedari tadi aku hanya terdiam menatap kosong kearah semak Pohon Markisa yang ada dipinggir danau. Merasa ada hal yang tidak beres, Mbak Dina mengajak kami untuk pindah ke shelter, namun baru saja  hendak beranjak ke shelter tiba-tiba ada bayang hitam didepanku dan membuatku terjatuh pingsan.
***
            Aku terbangun menatap lemah, orang-orang yang berada di sekelilingku. Mbak Dina dengan penuh kekhawatiran memegangi tangan kiriku, sedangkan tangan kananku juga digenggam dengan sebuah tangan pucat tanpa wujud. Aku mengeratkan genggamanku bermaksud agar tangan pucat itu kesakitan lalu melepaskannya. Aku menangis karena tangan itu membelai pipiku dan juga kepalaku, tangan itu muncul dari kerumunan orang-orang yang mencoba mengajakku berbicara tapi aku sama sekali tidak mendengar apa yang mereka katakan.
            “Astagfirullah aladzim….” ucapku melafazkan, samar-samar Mbak Dina dan beberapa anggota I memintaku untuk beristigfar sembari menguatkan diri.
Pertemuan Kelima
            Entah mengapa, sejak kejadian itu aku benar-benar tidak berani untuk menoleh sedikitpun kearah danau, apalagi datang kesana. Bila ingat, merinding sudah. Tak percaya jika aku sudah terlalu jauh untuk rasa penasaranku ini.
Hari ini kami ada pertemuan untuk membahas apa saja yang akan dibawa saat makrab. Makrab atau malam keakraban yang memang setiap tahun diadakan di jurusanku, gunanya untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan dan kebersamaan antara mahasiswa baru dan senior lainnya.
            “Kamu ikut makrab Riz?” tanya Donna.
“Ikut Don, tapi aku takut kalau tiba-tiba melihat hal aneh dan jadi pingsan lagi. Tapi kalau tidak ikut, juga merasa enggak enak sama kakak senior lain.keluhku pada Donna yang hanya merespon dengan menaikkan bahunya.
***
Hari makrab tiba, kegiatan awal yang kami lakukan adalah berolahraga di depan gedung PKM, kemudian masuk ke ruangan untuk mendapatkan materi. Kami juga melanjutkan kegiatan outbond ke hutan yang berada tidak jauh dari kampus. Kami berjalan kaki menuju hutan itu dan lumayan mengasikkan. Kami melaksanakan kegiatan outbond dengan ceria, semua orang yang ada disana turut ikut bermain dan menikmatinya. Cukup banyak rentetan kegiatan makrab yang kami lalui hari ini, hingga akhirnya panitia mengambil waktu break untuk seluruh peserta. Aku memutuskan untuk membersihkan diri dan lanjut melaksanakan ibadah sholat.
Satu persatu teman-teman yang sholat pulang dari masjid dan suasana mulai ramai. Aku pindah duduk bersama kelompok makrabku. Rasya dan Donna juga telah kembali dari sholat tapi aku melihat ada hal lain dengan Donna, dia tampak pucat dan kurang bersemangat.
Don tidak apa-apa kan?” tanyaku pada Donna.
“Gak papa Riz, hanya pusing sedikit” jawab Donna sembari memijat kepalanya
Beneran Don? Kalau sakit, kamu bisa istirahat di tenda kesehatanusulku.
“Gak papa Riz” jawab Donna lagi.
Akhirnya aku, Donna dan Rasya duduk bersama sambil mendengar pengumuman yang disampaikan panitia. Permainan kami sore ini ialah bermain kelipatan angka dan kelompokku yang memainkan bertahan hingga akhir tapi kami tidak menang. Sedang asik dengan kegiatan tiba-tiba hujan turun, kami semua langsung berlari berhamburan menuju lokasi terdekat untuk bisa berlindung dari derasnya hujan. Entah mengapa, kedua kaki ku dengan cepat membawaku berlindung di depan toilet bersama beberapa teman yang lain.
“Donna mana?” tanyaku saat sampai di toilet, kemudian langsung shock ketika tahu Donna sudah pingsan dan di bawa ke mobil salah seorang panitia.
“Jangan buka pintunya!” teriakku pada salah seorang teman yang akan membuka pintu, tapi terlambat pintu sudah terbuka dan nampak dalam toilet itu gelap dan kotor sekali. Dari toilet itu keluar seorang perempuan yang tidak memiliki wajah menuju ke arahku dan ingin menerkamku. Aku tak sadarkan diri dan saat bangun aku sudah berada di mobil panitia bersama Donna dan seorang teman lain.
Panitia tampak panik melihatku yang sudah bangun tapi tidak ada respon saat dipanggil dan juga tidak mau minum air yang mereka berikan. Aku duduk dan menatap mata Donna, tatapan Donna lurus kedepan dan tepat dibola matanya tampak sebuah wajah tapi tanpa rupa. Aku tersandar kembali ke kursi mobil sambil menarik hijabku menutupi wajah.
Kamu kenapa Riz?” tanya Mbak Fitri yang kebetulan menjaga kami saat itu. Aku tidak menjawab dan menangis karena takut.
Ditengah perjalanan keluar dari tempat kegiatan itu ada sebuah kain hitam yang menutupi wajahku sehingga aku kesulitan bernapas, aku merasa sesak seperti sedang dibekap orang dengan bantal. Donna pun juga demikian dia juga sesak, maka bertambah pula kepanikan para panitia melihat keadaan kami.
Sampainya di puskesmas Donna diturunkan pertama kali dan aku diturunkan setelahnya, aku masih merasa sesak, ditambah lagi ada sebuah tangan dingin menutup kedua telingaku sehingga pendengaranku juga kedap.
“Langsung kasih oksigen, lepaskan sepatu dan kaos kakinya” Aku masih mendengar sayup-sayup suara orang yang memerintahkan kepada orang lain untuk mengerjakannya.
Riz bangun Rizkain hitam yang menutupi wajahku sudah tidak ada lagi sehingga aku bisa melihat ada Mbak Fitri dan Mbak Yuli disampingku.
“Adek gak papa dek?” tanya Mbak Fitri.
“Donna mana mbak?” tanyaku padanya. Aku melihat ke samping ranjangku ternyata Donna sudah bangun duluan dan sudah duduk. Aku kemudian melepaskan selang oksigen dan ingin turun dari ranjang.
Riz, kamu mau kemana?” tanya Mbak Yuli.
“Rizki mau pulang mbak” jawabku.
“Istirahat dulu disini sampai besok pagi dek, besok pagi baru boleh pulang” kata dokter yang duduk di kursi. Aku diam dan menatap Donna, Donna menggelengkan kepala tanda tidak menyuruhku untuk menginap disini.
“Aku mau pulang aja mbak” pintaku pada Mbak Yuli
“Rumah Rizki jauh, bahaya kalau pulang malam-malam beginiucap Mbak Fitri.
“Salma mbak” celetukku tiba-tiba.
“Iya kenapa Salma dek?”
“Aku mau sama Salma mbak” pintaku. Setelahnya, mereka menjemput Salma.
Setelah beberapa menit sejak ditinggalkan Mbak Fitri, gadis itu kembali datang bersama Salma yang sudah panic melihat keadaanku.
“Assalamualaikum, Rizki kenapa Riz?” tanya Salma yang baru saja sampai.
“Aku takut Ma, itu dia duduk bertengger diatas itu” Aku menunjuk ke arah plafon diatas tempat duduk dokter tadi.
“Ya Allah Riz, Istighfar Riz” Salma mendekat dan memelukku.
Makhluk yang aku lihat malam itu ialah seorang wanita cantik tapi perawakannya seperti laki-laki yang berbadan besar dan tinggi. Wanita itu terus melihat kearahku tanpa wajahnya. Mendengar penjelasanku, Salma berinisiatif untuk membawaku pulang ke rumahnya, bersama panitia lain yang akan ikut menemani kami dalam perjalanan.
 “Ma dia ikut” wanita yang ku deskripsikan tadi mengikuti kami dengan terbang disamping mobil disebelahku. Salma memelukku lebih erat, aku benar-benar ketakutan.
Sesampainya di rumah Salma, mereka membopongku masuk ke dalam rumah. Beruntung wanita itu tidak mengikutiku lagi, namun dia tetap berada di atas mobil panitia dan ikut mengantarkan Donna untuk pulang.
Pertemuan Keenam
            Setelah kejadian makrab minggu lalu, kami para mahasiswa Administrasi Publik kembali melakukan kegiatan makrab malam terakhir yang sempat tertunda. Acara pada malam ini adalah penampilan kreatifitas dari berbagai macam kelompok. Penampilan kelompok kami sukses mengundang tawa dan tepuk tangan dari para senior, panitia dan teman-teman yang lain. Setelah pengumuman pemenang kelompok kami mendapatkan juara 3 dalam pentas seni itu, penampilan yang tidak kami rencanakan sebelumnya berjalan lancar dan sukses.
Pada saat sesi makan malam bersama para senior, kami diwajibkan mengajak satu senior untuk makan bersama. Saat panitia menyuruh kami mencari senior semuanya pun berhamburan mengajak para senior yang menjadi target mereka. Aku dan Donna mendekati deretan senior perempuan yang sedang duduk diujung ruangan.
“Mbak mau gak mbak makan bareng?” ajak Donna pada seorang senior yang hanya dibalas dengan senyuman manisnya
Aku melihat seorang gadis yang duduk di kursi barisan belakang dan mengajaknya untuk makan bersama. Saat aku hendak pindah ke kursi barisan belakang hijabku tersangkut dikursi sontak aku membenarkan posisi hijabku dulu. Namun saat kembali berbalik, gadis itu sudah tidak ada.
Don kemana mbak yang disitu tadi?” tanyaku pada Donna yang masih sibuk mengajak senior yang menjadi targetnya tadi.
Enggak ada orang yang duduk disitu dekjawab senior yang duduk di sebelah targetnya Donna, karena waktu yang diberikan panitia tidak banyak aku langsung melupakan kejadian tadi dan membujuk senior lain untuk makan bersama.
Selesai makan bersama tiba waktunya pengumuman king dan queen acara dan alhamdulillah aku terpilih menjadi queen makrab 2017 dan Deni menjadi king makrab 2017. Selesai pengumuman kami bersalaman dengan para panitia dan juga senior sebelum pulang.
Saat hendak pulang aku bingung dengan siapa akan beriringan karena rumahku memang lumayan jauh dari kampus dan hari juga sudah jam 11 malam.
“Adek pulang ke mana?” tanya Mbak Audina.
“Aku ke lempuing mbak, ada yang searah gak mbak ke lempuing?” tanyaku balik pada Mbak Audina.
“Bentar dek” jawabnya.“Woi teman-teman ada yang pulangnya kearah lempuing gak? Temenin Rizki barengan pulang!” teriak Mbak Audina pada yang lainnya sudah sibuk berkemas ingin pulang juga.
Tak lama setelah itu ada seorang senior yang menghampiriku, sebut saja Mbak J dan bilang kalau rumahnya di Lingkar Barat dan itu mengarah ke lempuing jadi dia mengajakku pulang bersama. Aku langsung mengiyakan dan menghidupkan motorku mengikuti motor Mbak J itu sampai aku lupa pamit pada Mbak Audina tadi yang membantuku mencarikan teman pulang.
“Loh kenapa Mbak J pergi ke GB 2? Apa mau lewat gerbang depan? Eh tapi udah tutup gerbang depan jam segini” batin ku diatas motor sambil terus mengikuti Mbak J itu yang jarak motornya ke motorku lumayan jauh.
Saat aku berbelok ditikungan LPTIK lampu belakang motor Mbak J sudah menghilang dibelokan GB 2, aku langsung ngebut takut ketinggalan. Tapi waktu aku sampai ditikungan GB 2 sudah tidak tampak lampu motor Mbak J dari jalan arah danau, karena biasanya walaupun dia ngebut setidaknya lampu belakangnya masih akan kelihatan di tebingan danau itu. Aku berhenti tepat didepan pos satpam GB 2 yang kebetulan ada 2 orang satpam sedang duduk disana.
“Maaf pak, motor yang barusan lewat tadi ke arah itu kan pak?” tanyaku pada satpam itu.
“Gak ada motor lewat dari tadi dek, saya rasa yang lewat juga baru adek saja. Emang mau ke mana? Gerbang depan ditutup hanya gerbang belakang yang dibuka karena ada kegiatan mahasiswa di PKM” jawab salah seorang satpam itu.
“Serius pak gak ada motor lewat sini?” tanyaku lagi meyakinkan
“Iya gak ada dek. Pulang, dek udah mau tengah malam ayo saya antarkan ke gerbang belakang” Aku mengiyakan dan satpam itu mengantarkanku ke gerbang keluar kampus belakang.
Di gerbang belakang rupanya ada beberapa senior yang masih belum pulang dan salah satunya ada Mbak Audina.
“Dek ke mana aja dari tadi mbak cariin, tadi katanya nyari teman pulang bareng” kata Mbak Audina yang menghampiriku.
“Tadi itu ada senior yang ngajak pulang bareng katanya rumahnya di Lingkar Barat makanya dia ngajak barengan tapi waktu aku ikutin sampai GB hilang mbaknya” jelasku.
 “Gimana ciri-ciri mbaknya?” tanya Bang Redo yang baru saja datang. Aku mengingat-ingat wajah Mbak J tadi.
Mbak J yang tadi ngajak pulang bareng” kataku cepat saat melihat Mbak J yang tiba-tiba menghilang tadi ada dibelakang Mbak Audina.
“Eh kapan dek? Dari tadi mbak disini kata Audina ada yang mau barengan jadi mbak tunggu di PKM tapi adek gak datang-datang” Mbak Audina menatapku seperti tidak percaya tapi yang aku katakan dan aku alami itu semua benar. karena hari sudah semakin malam dan satpam sudah menyuruh kami untuk pulang akhirnya aku pulang berbarengan dengan Mbak J yang awalnya tadi sempat meninggakanku. Saat sampai di rumah aku langsung membersihkan badan dan beristirahat.

Posting Komentar

28 Komentar

  1. wahh..
    It gb 2 tmpat bljar q wktu kliah dlu, memang terasa seru dan berisi banyak cerita di dalamnyaπŸ‘»,
    q rindulh masa it sma tmen2 qπŸ€—

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah ada kejadian serem juga ya kak πŸ˜„

      Hapus
  2. Udah ga pernah masuk GB 2 lagi :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo kak masuk lagi, siapa tau ketemu "dia" :v

      Hapus
  3. Balasan
    1. Siap kakak, cieee ada yang nungguin πŸ˜‚

      Hapus
  4. Dulu pas tes sbm dapek di gb 2. Pandangan pertama serem cuy. Antara ruang 22 atau 25 aku

    BalasHapus
  5. Pernah mengalami juga hal aneh di GB 2 waktu kuliah dulu,..ada suara2 aneh padahal ruangan kosong tapi lupa ruang berapa waktu itu,..terlihat sekelebat orang tapi hilang,..bedanya kejadian itu,..langsung aku lupakan ngak difikirkan,..dan ngak ngalami kejadian se ekstrim kayak si Rizki,..banyak istighfar sajalah kalo ketemu makhluk astral yg mau ganggu kita,..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, serem juga ya kak 😨

      Hapus
    2. Kita sadari saja keberadaannya memang ada dan bisa tinggal dimana saja,..yg penting kita jangan takut,..kita hanya wajib takut pada Allah SWT,..yang penting kita fokus sama kegiatan kita,..jangan terlalu difikirkan karena jin juga punya kehidupan sendiri,..

      Hapus
  6. horor nya GB 2 tuh bisa ngelihat notif di atas kepala orang² πŸ˜‚

    BalasHapus
  7. Jadi takut mau kuliah di sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak usah takut dong kak, harus dihadapi 😁

      Hapus
  8. Balasan
    1. Kalo deket doi jadi gak serem dong kak πŸ˜„

      Hapus
  9. Di beberapa bangunan lama di sana juga cukup serem ��
    Apalagi di saat matahari mulai tenggelam, hari mulai malam, terdengar...???

    Di tunggu part 2 ya
    ��

    BalasHapus
  10. Aku hobi cerita cak ini. Tpi bengaknyo , sudah baco aku dak brani kencing ke wc malam2.

    BalasHapus
  11. Ini fiksi or non fiksi ya ?

    BalasHapus
  12. Iya aku juga prnh merasakan di ruangan G2

    BalasHapus
  13. Mana part II nya min ada ga min😊

    BalasHapus
  14. Tengah hari setelah Dzhuhur, didlam sbuah ruangan kelas di GB 2, diruangan atas, disudut sbelah timur gedung, yg bagian kaca ruangannya menghadap ke areal pemakaman, dulu di tahun 2000, buku adalah pegangan wajib disaat wktu senggang.

    BalasHapus
  15. mantab alur ceritanya, unib memang penuh mistis, apalagi bangunan yg lama, gb 1, gb 2, gb 3, gedung i dan j, gedung C, lab MIPA, yg rame jg di asrama unib, tempat santai di sekitaran danau kembar jg sering mereka menyapa mahasiswa/i unib

    BalasHapus
  16. Dulu sering online malam malam dilantai 2

    BalasHapus